{"id":2091,"date":"2020-03-30T03:19:46","date_gmt":"2020-03-30T03:19:46","guid":{"rendered":"http:\/\/magisterkesmas.ulm.ac.id\/id\/?p=2091"},"modified":"2020-04-02T04:01:44","modified_gmt":"2020-04-02T04:01:44","slug":"paparan-pencegahan-dan-penanggulangan-covid-19","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/magisterkesmas.ulm.ac.id\/id\/2020\/03\/30\/paparan-pencegahan-dan-penanggulangan-covid-19\/","title":{"rendered":"Paparan Pencegahan dan Penanggulangan COVID-19"},"content":{"rendered":"\n<h2> Pendahuluan <\/h2>\n\n\n\n<p style=\"text-align: justify;\">Berdasarkan Data Nasional 29 Maret 2020, angka kematian akibat Covid-19 di Indonesia merupakan salah satu angka tertinggi di dunia 8,9% atau 114 kematian dari 1.285 kasus positif. Hal ini dipengaruhi oleh jumlah tes diagnosa positif yang masih tergolong rendah. Indonesia baru mengumpulkan 6.396 spesimen dari total populasi 270 juta jiwa. Sehingga rasionya sebesar 17 spesimen terhadap 1 juta populasi. Wajar jika para ahli kesehatan dunia dan Indonesia, meragukan data secara nasional tersebut merupakan gambaran sebenarnya. Bahkan beberapa prediksi menyatakan kasus Covid-19 di Indonesia pertama kali bukan pada awal Maret, melainkan awal Februari 2020 berdasarkan peningkatan kasus gejala Covid-19 di pelayanan kesehatan.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"text-align: justify;\">Jika melihat rumus WHO, satu orang positif mampu menginfeksi setidaknya dua orang lainnya per hari. Maka selama 14 hari tanpa adanya intervensi (pencegahan) setiap orang positif menjadi epicentrum dari 3.200 orang terpapar. Perhitungan ini bukan lagi dengan penjumlahan melainkan eksponensial (Ferguson et al. Impact of non-pharmaceutical interventions (NPIs) to reduce COVID-19 mortality and healthcare demand. Imperial college, March 16, 2020). <\/p>\n\n\n\n<p style=\"text-align: justify;\">Perhitungan secara modelling pohon epidemilogi (1 : 2: 4: 8: 16\u2026\u2026\u2026.sd hari ini) sejak diumumkan 2 Maret 2020 tentu bisa di hitung sendiri. Perkiraan para ahli kesehatan dunia dan Indonesia. Kasus di Indonesia sampai saat ini diperkirakan lebih banyak lagi mencapai puluhan ribu. Asumsinya adalah kasus yang terdeteksi positif hanya mencapai 10% dari total gunung es yang terselubung. Banyak kemungkinan kasus yang tidak terdeteksi dan tidak menunjukkan gejala (China CDC Weekly, The Epidemiological Characteristics of an Outbreak of 2019 Novel Coronavirus Diseases (COVID-19), Feb 2020).<\/p>\n\n\n\n<p style=\"text-align: justify;\">Mengingat beberapa faktor pendorong transmisi:<\/p>\n\n\n\n<p style=\"text-align: justify;\"><ol><li>Jumlah penduduk Indonesia 270 juta dan bentuk negara kepulauan. Hampir semua provinsi sudah teridentifikasi adanya positif Covid-19.<\/li><li>Mobilitas masyarakat yang tinggi. Episentrum Indonesia ada di Jakarta sebagai pusat kegiatan masyarakat. <\/li><li>Kekurangan fasilitas dan sarana alat kesehatan, serta SDM yang menangani. Total tempat tidur 132 RS rujukan Covid-19 di Indonesia hanya sekitar 25.000 dengan ketersediaan ventilator dan ruang isolasi terbatas.<\/li><li>Masyarakat yang kurang disiplin atas kesadaran warga tentang kebijakan pemerintah selama ini.<\/li><li>Banyak warga yang tidak paham Covid-19 sehingga banyak hoax dan bias informasi.<\/li><li>Banyak warga yang tidak peduli akan bahaya Covid-19. Faktor sosial ekonomi bagi sebagian besar masyarakat masih menjadi hal yang lebih penting. <\/li><li>Angka insiden pneumonia di Indonesia cukup tinggi (1,3 per 1000 penduduk) dan penyakit tidak menular lainnya (DM, stroke, PJK, dll). Berisiko menjadi faktor pemberat seseorang positif Covid-19 menderita komplikasi dan menyebabkan kematian.<\/li><\/ol>\n\n\n\n<p style=\"text-align: justify;\">Prediksi akhir bulan April jika penanganan hanya seperti ini saja kemungkinan di Indonesia yang terjadi kasus 1 sd 2 jt jiwa (akhir bulan Mei 4,5 jt jiwa) dengan per modelling di atas.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"text-align: justify;\">Jika Pemerintah menggunakan teori Herd Imunity tanpa adanya vaksin maka tidak bisa diterapkan. Akan ada banyak korban jiwa berjatuhan yaitu sekitar 4% dari 270 jt jiwa meninggal dunia (15 sd 17 jt jiwa) Karena imunitas alami menunggu imun secara alami butuh waktu antara 18 bln sd 30 bln (1,5 sd 2,5 thn). <\/p>\n\n\n\n<p>Intervensi yang perlu dilakukan Pemerintah:<\/p>\n\n\n\n<ol><li>Mewajibkan isolasi atau karantina.<br>\nIsolasi<br>\na.    isolasi daerah: membatasi warga dan orang lain masuk ke daerah yang bersangkutan, tanpa subsidi pemerintah.<br>\nb.    isolasi daerah dengan subsidi pemerintah.<br>\nc.    isolasi daerah secara penuh: dengan seluruh kebutuhan pangan dan sandang oleh pemerintah.<br>\nKarantina<br>\nTingkatan karantina wilayah:<br>\na.    wilayah kelurahan.<br>\nb.    wilayah kecamatan.<br>\nc.    wilayah kab kota<br>\nd.    wilayah provinsi<br>\ne.    wilayah negara.<br>\nBatasan waktu:<br>\na.    satu minggu<br>\nb.    14 hari..<br>\nc.    21 hari\u2026<br>\nd.    satu bln\u2026..<br>\ndievaluasi kembali tergantung tingkat keparahan\u2026.<\/li><li>Memperbanyak dan memperluas rapid test.<br>\nUji lab (PCR) juga diperluas.<br>\nDeteksi kasus lebih gencar (melibatkan peran aktif lintas sektor dan masyarakat)<\/li><li>Persediaan pangan terpenuhi sampai tingkat rumah tangga.<\/li><li>Persediaan APD dan akomodasi untuk tenaga medis terpenuhi. Jumlah SDM perlu ditambah.<\/li><\/ol>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Prof. Dr. Husaini, SKM., M.Kes<\/strong><br><strong>Dosen FK &#8211;  ULM KalSel dan Ketua Dewan Pakar DPD FIDN Kalsel<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pendahuluan Berdasarkan Data Nasional 29 Maret 2020, angka kematian akibat Covid-19 di Indonesia merupakan salah satu angka tertinggi di dunia 8,9% atau 114 kematian dari 1.285 kasus positif. Hal ini dipengaruhi oleh jumlah tes diagnosa positif yang masih tergolong rendah. &hellip; <\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_bbp_topic_count":0,"_bbp_reply_count":0,"_bbp_total_topic_count":0,"_bbp_total_reply_count":0,"_bbp_voice_count":0,"_bbp_anonymous_reply_count":0,"_bbp_topic_count_hidden":0,"_bbp_reply_count_hidden":0,"_bbp_forum_subforum_count":0},"categories":[17,26],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/magisterkesmas.ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2091"}],"collection":[{"href":"https:\/\/magisterkesmas.ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/magisterkesmas.ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/magisterkesmas.ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/magisterkesmas.ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2091"}],"version-history":[{"count":11,"href":"https:\/\/magisterkesmas.ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2091\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2108,"href":"https:\/\/magisterkesmas.ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2091\/revisions\/2108"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/magisterkesmas.ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2091"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/magisterkesmas.ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2091"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/magisterkesmas.ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2091"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}